Berawal dari syair pendek di sebuah cover album photo yang usang

Sore di Padang Savana

Ilustrasi Sore di Padang Savana

Rindi malam belum sepenuhnya turun…
Pandangan mataku bersirobok dengan penuh kehampaan…
Kutunggu… kusapa gambar bisumu…
Kau berjanji akan datang…

Kutatap langit begitu jernih…
hanya sedikit gumpalan awan, berada di perutnya…
tak mengurangi keindahan, seindah photomu…

Ajaibnya sampai saat ini saya masih bisa menghafal lirik syair tersebut, syair dari cover album photo usang milik Ibu saya yang berisikan gambar-gambar perjalanan masa muda beliau di era tahun 70an, bagi saya syair tersebut merupakan kalimat indah pertama yang saya baca dan sedikit banyak merubah hidup saya, ketika saya mulai belajar mengeja huruf, angka dan kalimat yang saya lihat dijalan, dirumah, di televisi, dan di semua media yang memiliki huruf dan angka yang berbentuk kalimat, rasa ingin tahu anak kecil yang begitu liar dan bahkan saat itu saya belum mengenyam pendidikan dasar, rasa ingin tahu itu bertambah besar ketika saya melihat tumpukan album dengan cover yang unik berwarna hijau dan  berisikan syair tersebut dan ilustrasi gambar, saya membacanya berulang-ulang, berkali-kali, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan terus mengulanginya sampai bertahun-tahun, saya sangat tertarik dengan syair tersebut, saya berimajinasi dengan syair tersebut, ditambah lagi dengan sketsa gambar yang terdapat pada covernya, seorang lelaki dewasa yang duduk dengan mata menatap kelangit jingga sore di tengah-tengah padang savana yang berawan, menambah keliaran imajinasi kecil saya yang membayangkan betapa kesepian nya lelaki itu, Rindi kekasihnya pada saat ini sedang berada di sebuah tempat yang sangat jauh dan mereka saling berkirim surat untuk berjanji bertemu dan entah surat yang di kirimkan itu sampai atau tidak, tidak ada kabar tidak ada berita yang sudah begitu lama, saya membayangkan betapa kerinduan lelaki itu pada Rindi yang pasti sangat menjadi inspirasinya sehingga dengan menatap photo Rindi saja, berharap kerinduan itu bisa berkurang, setiap hari saya kembali membaca dan mengulang atau hanya sekedar untuk menatap dan membuat cerita imajinasi di kepala saya, tentang kelanjutan kisah kekasih itu, berharap saya menemukan cover album lain yang berkisah tentang pertemuan dua sejoli yang sudah lama terpisah jarak dan waktu, berharap bahwa kisah mereka bisa berakhir sempurna.

Berawal dari pengalaman saya membaca syair pendek itu, kesenangan membaca menjadi semakin besar, bayangkan semenjak masuk Sekolah Dasar dan lancar membaca, saya mulai berani sembunyi-sembunyi mengambil untuk membaca novel milik tante saya, mulai dari novel fiksi, romantis dan terkadang menjurus ke erotis karangan beberapa penlis seperti Mira W., Tara Zagita, novel misteri karangan Agatha Christie, Shidney Sheldon ikut saya baca, dan pengarang yang lain yang sudah tidak bisa saya ingat, saya belum sadar bahwa dengan umur saya yang belum mencapai angka puluhan, seharusnya bacaan saya terbatas pada majalah Bobo, Donal Bebek, Mickey Mouse, tapi jujur saya juga menyukai bacaan anak-anak tesebut, sampai Ibu saya berlangganan membelikan majalah Bobo setiap minggunya mungkin sedikit banyak terpengaruh dengan slogan yang tertulis “Bobo teman bermain dan belajar”, waktu itu harganya masih seribu lima ratus perak, diambil dari memotong 250 rupiah dari uang jajan saya yang berjumlah 500 rupiah per-hari.

Kembali ke syair, tadi pagi sebelum berangkat kerja saya duduk di ruang tamu dan melihat setumpuk album jadul yang sudah sangat usang, sepertinya sudah layak masuk ke dalam museum pikir saya dan dibagian tengah saya melihat album hijau yang sepertinya sangat tidak asing, dan benar ternyata lelaki yang duduk di padang savana sambil menatap semburat jingga itu masih berada disana namun dengan warna yang sudah memudar dan dengan tatapan yang kosong, “lelaki perantau” sempat saya baca syair itu sekali lagi dan tiba-tiba saja seperti ada lubang besar di dalam hati, seperti dejavu, rasa itu hadir dan membuat pekat udara pagi Jum’at yang cerah.

Iklan

Bagaimana Menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s