Sebuah kisah dari gunung (Part 1)

Ranu Kumbolo 18.45 PM

Ranu Kumbolo 18.45 PM

Tulisan ini masih menyangkut tentang pengalaman pada saat naik gunung tertinggi di pulau Jawa, entah kenapa ada sebuah perasaan berbeda yang lain dari biasanya, seperti rasa ketika mengalami memori menyenangkan waktu kecil yang terulang kembali, seperti rasa menaiki mobil dengan kecepatan 200 km/jam menuju turunan yang curam dan mulus, membuat seluruh organ tubuh bagian dalam seperti terangkat dan ingin keluar melalui lubang tenggorokan, dan biji mata serasa ingin meloncat keluar, namun didominasi dengan sensasi geli yang maha dahsyat, paham kan maksudnya?, atau seperti mengalami multi orgasme ketika berhubungan sex dengan pasangan, ya betul, pasti sudah tahu dan paham, tapi apa kaitannya dengan judul diatas???, oh, tentu ada, sebagai seorang pria yang sedikit berbeda dari pria-pria kebanyakan saya merasa bahwa setiap apa yang akan saya lakukan harus memiliki tujuan dan manfaat yang jelas terlepas dari hal negatif yang menggiringnya.

Kisah didalam tulisan ini akan berkisah tentang setiap komponen bagian pengalaman yang menurut saya melekat dan memiliki makna yang begitu dejavu, baru dan dalam, setiap komponen bagian tersebut akan terus saya racik sampai menjadi sebuah unsur bersambung yang mudah-mudahan bisa berbentuk menjadi sebuah massa.

Jadi pada saat hari terakhir pendakian, kebetulan kita sepakat untuk nge camp di Ranu Kumbolo, pikir saya ini kesempatan bagus untuk mengeksplorasi dan menyerap banyak energi positif serta mengabadikan keindahan dan segala penampakan alam yang berada disitu, kebetulan pada malam hari sekitar pukul 19.00 setelah segala rutinitas kegiatan sudah selesai dilakukan (MCK+K), saya duduk diteras shelter dengan ditemani sebungkus rokok, segelas minuman penghangat dan senter tembak yang baru diganti baterai nya, kebetulan suhu udara disitu sangat dingin kira-kira mencapai 0 derajat celcius, yang membuat saya mengurungkan niat untuk melakukan aktivitas eksplorasi dan kebetulan juga gerimis datang seperti mengiringi malam terakhir perjalanan kami, sehingga saya berkomitmen untuk tidak melakukan pergerakan yang ceroboh dan hanya duduk tanpa suara di atas teras bersemennya shelter yang begitu dinginnya, tapi tidak menyurutkan semangat pantat saya untuk tetap bertengger kokoh disana, sambil menyeruput sedikit minuman berenergi saya dan membakar sebatang rokok, pikiran saya mulai terbang menjelajah hamparan danau Kumbolo yang begitu tenang, sesekali muncul riak kecil dari aktivitas pendaki lain yang mengambil air untuk memasak atau sekedar mencuci alat makan mereka. Masih terdengar suara tawa yang keras dan cerita yang lantang dari mereka-mereka yang sudah turun dari puncak, tidak pernah sebelumnya saya merasakan perasaan sepuas ini, se-asing ini, semeriah ini, dan juga sekaligus se-sepi ini, salah satu ruang kecil didalam diri saya terdistorsi oleh begitu banyaknya bentuk visual yang direkam oleh bagian otak yang sedikit mengalami kelumpuhan waktu mandi pertama dan sekaligus terakhir saya di awal pendakian ini.

Samar-samar terlihat cahaya senter dari atas bukit yang mengarah ke Kumbolo, tidak salah lagi itu pasti rombongan pendaki yang memaksakan diri berangkat di detik-detik terakhir penutupan pendaftaran atau mereka-mereka kaum tua yang  berangkat pagi tadi untuk mencoba peruntungan sisa-sisa otot berkerut dan berlemak mereka di jalur berkelok dan basah gunung ini, saya mengarahkan senter tembak kearah gerombolan pendaki diatas bukit yang sudah terbagi-bagi menjadi tiga tim terpisah tersebut, entah untuk apa tapi tangan ini tanpa komando melakukannya begitu saja, toh dari atas bukit tersebut pasti mereka bakalan melihat dengan jelas gemerlap cahaya lampu dari belasan tenda doom yang terpencar acak tepat dibelakang siluet kumbolo, langit mulai mengurangi tempo tiupannya, sehingga suasana seperti malam yang berawan, bercahaya tapi tidak terang, seperti malam purnama dimana manusia serigala mulai berubah dan mencari mangsa, gerimis tidak mau berhenti sehingga bau tanah basah bercampur karbondioksida masih mendominasi atmosfer sekitar udara saya, pikiran saya terus menjelajah memutari danau Kumbolo dan sesekali berteriak diatas Kalimati, seiring waktu yang begitu lambat dan udara yang tipis seperti memaksa untuk terus merayap masuk menjejali memenuhi bagian memori yang harusnya sudah sedikit lega setelah selesai melalui proses defrag. Tegukan demi tegukan ethanol membuat bersih jalur pernapasan dan mulai melogiskan dan membentuk sebuah tali simpul atas beberapa peristiwa yang suda dilewati, cahaya senter itu semakin banyak dan dekat, suara-suara bersemangat semakin jelas membuyarkan pikiran yang hampir beku.

Iklan

PD-Proxy VPN Service – Solusi tepat untuk internet cepat dan hebat !!!

PD-Proxy Banner

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah pencerahan dari rekan sejawat yang kebetulan merupakan karyawan baru dikantor, orangnya memang agak-agak memaksakan diri untuk tampil berwibawa, alkisah habis makan siang kita ngobrol basa-basi di smooking area kantor, tidak disangka dan tidak diduga ternyata orangnya lumayan pintar dalam pembahasan mengenai hal yang berbau dunia IT, kebetulan pada saat itu saya cerita kalo jaringan internet disini payah dan banyak situs yang diblokir, intinya dengan jam kerja yang lumayan panjang ditambah dengan akses terbatas internet apakah ini sudah bisa disebut “pembunuhan karakter secara perlahan???”, oke, kayanya lebih mudah dipahami kalo saya bikin dalam sebuah percakapan antara saya (S) dan karyawan baru (KB) :

S     : Brow, lu pernah ngisap cerutu gak?

KB : Pernah, tapi sudah lama, emang kenapa???

S    : lu pernah ngisap cerutu sambil nonton bokep gak?

KB : enggmm, belum !!!, soal apa sih?

S   : Enggak,,, gw ngebayangin aja berada diposisi cwe kaya di film2, mungkin rasanya sama kaya ngisap cerutu gitu ya..

KB : Anjrittttttt, apaan sih..

” Percakapan diatas adalah pembukaan dari saya biar suasana tidak terlalu kaku, biasanya obrolan seputar dunia bawah selalu berhasil mencairkan suasana kapan dan dimana saja,,, tapi setelah menulis ini saya jadi berpikir, apakah om-om yang sering menghisap cerutu, punya perilaku penyimpangan sexual ya????, argghhh menarik, sepertinya kedepannya akan saya bahas dalam analisa tulisan saya saja” berikut lanjutan percakapan kami :

S    : Eh, brow, lu tau kan jaringan internet disini payah ?

KB : Iya brow memang payah, tapi ditempat gw gak kok… (dengan muka sedikit sinis)

S    : Serius lu??? emang gimana caranya?

KB : (menatap mata gw dengan dalam sambil tetap dengan muka sinisnya), yakin lu mau tau dan bisa jadi rahasia kita berdua?

S    : Emmmm, emangnya melanggar hukum ya???

KB : Gk sih, biar keren aja tadi gw ngomong gitu, yuk, keruangan gw (mata berkedip)…

S    : Eeee,aaa,mmmm, “aman gk neh?”.

Itulah sekelumit percakapan kami yang membawa saya kedunia dimana internet adalah hak setiap manusia yang percaya dengan   kebebasan berkreasi dan berpendapat haruslah tanpa pembatasan dan tanpa pemblokiran, Jadi intinya saya diberikan sebuah software yang bisa membuka blokiran dari Pihak pengelola terhadap blog-blog yang dianggap terlarang bagi mereka tapi mengasyikan bagi kita (iya, kita), namanya adalah PD-Proxy VPN Service, silahkan langsung dibaca dan dipelajari mengenai ketentuan penggunaanya di blog resmi mereka disini dan klik disini untuk mendapatkan akun gratis, untuk mendapatkan softwarenya silakan klik disini,

Tampilan awal software setelah berhasil didownload, tinggal klik connect niscaya dunia anda akan berubah...

Tampilan awal software setelah berhasil didownload, tinggal klik connect niscaya dunia anda akan berubah…

Permasalahan memang selalu ada, kita hanya akan diberikan kuota sampai 100 MB/hari, setelah itu baru bisa digunakan di hari berikutnya, tapi tenang ada solusi disetiap masalah, anda cukup melakukan hal yang saya lakukan sekarang (mungkin disebut testimonial), untuk lebih jelasnya cek gambar dibawah :

DO-IT

DO-IT

Demikian yang bisa dapat saya sampaikan, terkait pengalaman saya memakai software yang sangat membantu dan memberikan harapan baru bagi saya, silahkan dicoba dan selamat menikmati bagi yang berminat dan doakan saya mendapat balasan email dari sales PD-Proxy yang berisikan Akun Premium kepada saya, aamiin.,,,

Kolom keterangan, bekas gambar yang tidak bisa dihapus (Abaikan Saja) 

 

Selamat Datang Rutinitas

Ilustrasi Rasa Saja

Ilustrasi Rasa Saja

Setelah melalui liburan yang cukup panjang, melelahkan, rumit sekaligus menyenangkan dan membuat kepala berdenyut-denyut senada aliran darah yang ditahan dengan jari telunjuk, akhirnya sampai juga di hari yang tidak dinanti-nanti bahkan kalau bisa tidak datang sama sekali, ya, hari dimana seluruh jiwa dan raga kembali di eksploitasi dengan ganas namun tetap memiliki unsur manis nan getir.

Banyak hal baru dan pengalaman yang terpahat diotak, dan semuanya memberikan energi positif yang melimpah ruah, cukup sebagai bekal untuk menjalani kembali 70 hari kedepan, oh ya, jangan pernah sesekali mencoba mandi pada pukul 20.00 disaat suhu mencapai -1 derajat celcius, bukan cuman mengalami brain freeze tapi juga bakalan regret freeze, percayalah… saya sendiri membuktikannya pada saat sampai di Desa Ranu Pane dalam rangka pendakian Semeru kemarin.

Dulu sekali seorang teman pernah bilang dengan percaya diri bahwa “Negara tidak akan pernah kehabisan stok pemimpin selama generasi mudanya masih mendaki gunung”, secara pribadi saya sangat setuju dan meyakininya bahkan sangat percaya akan hal itu tapi entah kenapa menjadi berbeda ketika objek dalam hal ini gunung yang di daki bebeda dari gunung-gunung yang pernah saya daki sebelumnya, mungkin harus ada penjelasan baru pada kalimat “generasi mudanya“.

Kembali kerutinitas itu ibarat datang ke sebuah pesta perkawinan temannya teman kita dengan tamu yang asing dan menu makanan baru, penuh dengan atmosfer kecanggungan, antara risih dan sensitif, risih karena merasa menjadi pusat perhatian dan sensitif karena merasa seolah-olah menjadi bahan pembicaraan, arghhh… semuanya hanya soal rasa dan hanya rasa yang bisa membuat semua ini menjadi positif atau negatif.

Rasa dingin merupakan salah satu ketakutan terbesar dalam hidup saya, tapi beberapa minggu yang lalu saya berhasil untuk mengalaminya dan melaluinya dengan aman dan cenderung mulus, walaupun mengorbankan celana dalam andalan untuk dipakai dengan intens dan lama, tapi itulah harga yang harus dibayar dari suatu pengorbanan, dan saya pikir cukup adil dan berkesan, sampai ketemu celana dalam sampai ketemu pasir berbisik sampai ketemu tanjakan cinta sampai ketemu udara berkadar oksigen rendah. Terimakasih atas pengalaman berat dan besar dalam sejarah perjalanan hidup saya.