Sepotong Roti dan Putri Jelita

Aku  lagi sedih dan perlu pengobat rindu mendalam ini...

Aku lagi sedih dan perlu pengobat rindu yang mendalam ini…

Di suatu hutan rimba yang masih lebat dan perawan, tersebutlah seorang Putri yang parasnya cantik jelita, dia hidup sebatang kara setelah ditinggal mati kedua orang tuanya, dari kecil sang putri sudah terbiasa hidup sendiri di tengah hutan didalam pondok kecil buatan Ayah nya, pondok kecil yang dulu biasa menjadi tempat melepas penat sang Putri dan Ayahnya setelah seharian belajar memanah dan berburu ditengah hutan yang angker bagi kebanyakan penduduk di desa, kini tempat itu menjadi rumah kecil sang Putri menjalani hidupnya yang begitu sepi, Ayah dan Ibu sang Putri telah mati dibunuh oleh pasukan pemberontak kerajaan yang tidak lain di pimpin oleh Adik Ayahnya, Paman sang Putri, sang Putri berhasil kabur kepondok di tengah hutan rahasia buatan Ayah nya sebelum pamanya berhasil menemukannya, ditempat itu sang Putri merasa aman karena dia ingat bahwa dulu Ayah nya pernah bilang kalo lokasi pondok ini tidak akan pernah bisa ditemukan siapapun karena dia sudah menaruh mantra pelindung didepan hutan tepatnya disepanjang jalan menuju lokasi pondok, Ayah nya juga sudah menyediakan berbagai perlengkapan yang sangat lengkap didalam pondok, sehingga sang Putri dapat bertahan dalam waktu yang lama, ternyata Ayah sang Putri telah mengetahui rencana pemberontakan tersebut dan telah mempersiapkan segala rencana untuk keselamatan dan masa depan Putri nya, ternyata pelajaran memanah dan berburu yang diberikan Ayah nya tidak hanya pelajaran biasa sang Ayah mengajak berburu kehutan agar sang Putri nya dapat menghapal jalur dan seluk beluk hutan, dan tidak sia-sia setelah lebih kurang 3 tahun pelajaran berburu dari Ayah nya sang Putri telah dapat mengingat dan hapal seluk beluk hutan.

Sang Putri tidak dendam terhadap perbuatan Paman nya yang telah membunuh kedua orang tuanya dan merebut tahkta kerajaan Ayah nya, tidak ada sedikit pun niat untuk membalas dendam kepada Paman nya, dia telah memutuskan untuk menetap seumur hidup di hutan dengan membawa berjuta kenangan indah yang masih selalu tetap hidup didalam hati sang Putri, kenangan-kenangan di masa kedua orang tuanya memberikan kasih sayang dan cinta yang berlimpah, tidak terkecuali kisah tentang sepotong roti yang sekarang berada di dalam genggaman tangan sang Putri yang telah mengeras dan berjamur, sepotong roti yang belum sempat dimakan di pagi hari yang cerah dimana segerombolan pasukan yang dipimpin oleh Paman nya menyerang dan membunuh setiap orang yang ada didalam ruangan, hanya sepotong roti yang belum sempat dimakan dan telah mengeras dan berjamur ini satu-satunya benda terakhir yang sempat dia bawa sebelum Ayah nya mengendong kehalaman belakang dan menyuruhnya lari secepat mungkin kepondok ditengah hutan rahasia mereka, hanya kata “berlarilah sekuat tenaga sayang” teriakan terakhir dari Ayah nya, yang menjadi kata perpisahan bagi mereka untuk selama-lamanya, tidak ada kecupan di pipi, tidak ada pelukan hangat yang biasa didapatkan sang Putri sebelum tidur, teriakan yang penuh getaran kecemasan dan harapan untuk keselamatan sang Putri.

Iklan