Kejujuran itu Seperti Es Krim

Pret-Kejujuran itu seperti es krim

Entah dari mana pemikiran tentang kejujuran bisa berakhir pada sebuah pola cerita yang rumit, berbicara tentang perasaan memang bukan hal yang mudah dan terkadang susah diterangkan bahkan dalam beberapa kesempatan tidak ada kata yang cukup baik untuk mewakilinya, untaian kata manis yang mengalir dari bibir terkadang tidak murni dan cenderung dilebih-lebihkan untuk hanya sekedar menciptakan rasa aman dan nyaman sesaat, bagaimana mungkin ketika hati menginginkan rasa yang lebih tapi realita berkata lain dan parahnya realita itu sudah ada dan diketahui sejak awal, tuntutan hati itu tetap datang dan membuncah, jangan main-main dengan perasaan, karena perasaan bukan hal yang mudah untuk disembuhkan ketika dia terluka, luka yang menggores bisa saja sembuh, mungkin memerlukan waktu yang cukup lama, tapi dibalik kesembuhan itu terdapat bekas luka yang permanen dan menimbulkan jejak-jejak yang bisa terlihat jelas, betapa malangnya manusia-manusia yang memiliki bekas luka permanen.

Ketika Abraham Sapien jatuh cinta dengan Putri Nuala dari kerajaan Bethmoora, dia sudah paham betul konsekuensi yang akan terjadi, dia akan membuat sebuah bekas luka permanen dalam dasar hatinya, tapi perasaan itu terlalu besar untuk dikalahkan oleh kerealistisan yang penakut, filosopi cinta itu adalah tentang merelakan memenuhi atmosfir dan membuat perut serasa ditinju dengan keras.

Iklan