Surat Cinta di hari Rabu

Pret-Surat Cinta di Hari Rabu

Dear Sweety

Pagi ini begitu dingin dan tanah menyebarkan aroma khasnya yang lembab, samar-samar masih terlintas jutaan adegan yang terekam di memori otak tentang petualangan liar kita yang lalu, km tahu sweety aku sangat menyukai gerakan tangan ketika km menggosok gigi, bahkan ekspresi wajah saat km meludahkan busa pasta gigi dari mulut ke wastafel, oh sweety aku bahkan rela hanya untuk menontonmu menggosok gigi seharian diatas kloset tanpa melakukan apapun…

Km tahu sweety, ada kalanya manusia berada pada titik terendahnya, titik dimana manusia hanya bisa merasakan tanpa mampu berbuat apa-apa, tanpa mampu memberikan respon ekspresi atas apa yang dirasa apalagi memberikan perlawanan terhadap rasa yang dirasakan, tentu saja itu sangat menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan dari deraan fisik yang dirasakan tawanan perang pada saat interogasi penyiksaan menggunakan peralatan abad XIII, hati yang merasakan tanpa mampu berbuat apa-apa, bisa km bayangkan betapa malangnya nasib manusia yang mengalami hal itu, perih, berdarah, kacau, itu sudah pasti, aku berharap tidak ada sedikitpun terpikir oleh km pemikiran untuk berbuat seperti itu, soal waktu dan kapan akhir dari petualangan ini biarlah kita lupakan, kita abaikan, kita hapus untuk sementara dari pemikiran kita sampai saatnya kita anggap tiba dan kita sudah menyiapkan segala halnya, bersama kita tuliskan bait-bait akhir kisah petualangan ini dengan perlahan dan lembut sampai pada halaman terakhir buku itu, sampai satu sama lain dari kita bisa mengerti dan paham apa arti dari kata “merelakan”, disitulah jari kita bersama akan menuliskan kata tamat untuk petualangan ini, tanpa ada pertanyaan lebih lanjut, tanpa pelukan, tanpa kecupan, hanya sebuah anggukan kecil karena kita sudah saling mengerti kemana kaki kita ini akan melangkah.

Iklan