Tentang Malam

Pret-Malam

Dalam setiap kisah ada alur yang mengisi dan mengaliri bait-bait cerita, bait-bait tersebut terus berjalan tanpa bisa dihentikan namun terkadang tetap berada di jalur kontrol sang pembuat cerita, sebuah kisah yang laris adalah kisah yang memiliki akhir cerita yang bahagia, begitulah kira-kira keinginan setiap pembaca cerita, tidak ada satupun orang didunia yang menginginkan akhir cerita yang rumit dan sedih, ironis dan menyakitkan sudah pasti harus dihindari, karena tidak ada yang mau menanggung setiap rasa perih yang dihasilkan dari sebuah kisah sedih, manusia diciptakan satu paket dengan segala kerapuhan nya terlepas dari jenis kelamin, mungkin karena itu manusia memiliki ketakutan besar terhadap rasa melankolis yang diakibatkan dari perasaan sedihnya.

Malam selalu memiliki kisahnya sendiri, karena hanya di malam hari beberapa orang bisa dengan leluasa menjadi dirinya kembali, ketika sebagian banyak orang ter-larut dalam lelap nya tidur, sebagian kecil lain mencoba untuk memulai mimpi-mimpinya, malam menawarkan janji atas ketulusan yang besar bagi setiap orang yang mampu bertahan tanpa berkhianat kepada dingin dan kegelapan.

Bermimpi bukan lah melulu hal yang buruk, kita tahu bahwa terkadang sebagian mimpi yang didasari dengan sebuah harapan yang kuat bisa memberikan efek yang positif walaupun pada akhirnya mimpi itu tidak tercapai atau bahkan mimpi itu tetap mengonggok begitu saja terserak dalam ruang tak bernama, setidaknya kelak kita bisa mengingatnya dan menertawakannya dengan keras, bahwa dulu sekali kita pernah bermimpi kearah sana, bahwa kita pernah secara bersama memberikan banyak coretan pada harapan-harapan yang kita bundel dalam sebuah mimpi berlabel kesekian, membicarakannya dengan antusias di sebuah bangku taman di suatu sore sambil menikmati secangkir coklat panas, cukup secangkir karena salah satu dari kita sudah menderita diabetes, menikmati cahaya terakhir matahari menghangatkan kulit keriput kita dan menunggu matahari tenggelam digantikan cahaya rembulan yang bersinar dengan indahnya, seindah cahaya rembulan yang sama pada saat dulu kita pernah menggoreskan rasa pada mimpi ini.

Iklan