Siluet Dirumah Reyot (Penulis: Faye Yolody)

Pret-Siluet Dirumah Reyot

Di dalam sebuah rumah reyot di seberang sungai, sepasang insan sedang mencinta. Tampak siluet tubuh kurus memeluk pinggang seorang perempuan bungkuk sedang berputar dengan tertatih-tatih. Kedua bayangan mereka menyatu, dan apabila dinding itu bisa merekam suara, akan terdengar sayu-sayu obrolan dengan irama yang lembut dan menenangkan. Buyar tawa sesekali terdengar menyelingi percakapan seru itu, kemudian terkadang kesunyian mencuri waktu dalam dekapan orang dalam siluet itu.

Retakan kaca, engsel pintu yang rusak, beserta rayap-rayap yang bersarang di pondasi kayu rumah tak sengaja mencuri dengan obrolan mereka, tanpa meminta izin pada dinding. Mereka menyaksikan langsung kedua insan itu tanpa harus menerka-nerka siluet. Si retakan mendadak terdiam, engsel pintu berhenti berdecit, dan rayap menunda pekerjaannya. Hanya angin di luar yang terus berhembus, mengamati si pemilik siluet, dan mengetahui kisah pahit manis di balik obrolan dan pelukan.

“Entah sampai kapan aku bisa merasakan hangat tanganmu lagi, Jan,” ujar perempuan itu lirih.

“Maka jangan lepas dari genggamanku lagi, Ratih,” ujar lelaki itu seraya mengecup dahi si perempuan yang terhalang rambut putih. Sesekali mereka menari berputar, dan ketika merasa lelah mereka saling membantu untuk duduk menepi di kursi.

Berpuluh tahun lalu, Jan dan Ratih adalah teman sepermainan di antara empat lainnya. Setiap sore sepulang sekolah, mereka suka bermain petak umpet. Suatu momen saat Ratih menghadap pohon dan menghitung sementara teman-temannya bersembunyi, ia mendapati dua orang tentara di balik badannya. Tentara itu sedang melakukan razia, terutama pada warga keturunan. Saat itu Jan yang sedang bersembunyi di balik gerobak sampah ingin menghampiri, tapi urung. Bisa-bisa ia ditangkap dan dihabisi nyawanya karena warna kulitnya yang kuning dan matanya yang sipit.Paratentara mengamati gadis kecil itu dari kepala sampai kaki. Setelah mengamati Ratih, kemudian melihat sekeliling dengan cermat, seperti sedang mencari sesuatu. Untungnya, kedua tentara tersebut nampaknya tidak berniat jahat. Setelah beberapa saat, kedua tentara itu kembali berjalan dan menghilang di belokan gang. Jan segera menghambur keluar.

“Maaf aku tak membantumu tadi..”

“Tak apa. Aku tahu bukan kamu tak mau, tapi tak bisa,kan? Aku mengerti posisimu, Jan. Lagipula aku tidak kenapa-napa.”

Jan tersenyum, lalu Ratih kembali menghadap pohon sementara Jan mencari tempat persembuyian lagi.

Dua tahun ini mereka membohongi perasaan masing-masing dan menyelimutinya dengan persahabatan. Jan dan Ratih tahu, filosofi keluarga Jan dengan darah keturunan Tionghoa sangat bertolak belakang dengan ketulenan suku Jawa yang dimiliki Ratih. Semakin mereka memaksakan hubungan, semakin menjerumuskan mereka ke semak belukar yang rumit. Seperti dunia yang tak berawal dan tak ada akhir, mereka memutuskan hubungan begitu saja. Tanpa ucapan, tanpa perpisahan.

Jan dan Ratih menikah dengan pasangan masing-masing hingga beranak-cucu. Istri Jan meninggal di usia 65 tahun karena penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya selama tiga tahun. “Terima kasih, kamu telah menemaniku selama 40 tahun ini, Jan. Kejarlah bahagiamu yang sesungguhnya.” Jan memandangi terus-menerus pada kalimat terakhirsuratwasiat yang ditinggalkan istri. Jan termangu, menyadari istrinya sadar akan sesuatu yang hilang dari diri Jan selama usia pernikahan mereka.

Di belahan lain, setahun kemudian, Ratih bersama dua anak dan empat cucunya berduka atas sepeninggal suaminya yang berasal di dusun seberang. Ratih mengusap air mata nelangsa yang bercucuran terus-menerus di samping jasad suaminya. Ia tidak sanggup menghadapi perpisahan untuk kedua kalinya.

Semenjak itu, Ratih senang berjalan-jalan di taman sendirian, menikmati senja yang hangat. Di sebuah bangku taman, Ratih melihat seorang lelaki sedang mengobrol dengan anjingnya. Sebuah tongkat bersandar pada lutut si lelaki. Ratih duduk di sampingnya, berusaha meluruskan punggungnya yang bungkuk pada sandaran bangku. Ratih memperhatikan sinar mata lelaki yang teduh, mengingatkannya pada seseorang.

Merasa diperhatikan, lelaki itu menoleh ke arah Ratih. Jan terkesiap lalu tersenyum tipis setelah beberapa detik. Buat Jan, raut wajah Ratih masih persis seperti dulu, hanya saja kerutan menghiasi seluruh wajahnya.

“45 Tahun bukan waktu yang singkat, ya,” Jan membuka pembicaraan.

“Apa kabar?”

“Ya, seperti yang kamu lihat. Tua, keriput, dan mencari kebahagiaan.”

“Memang kamu tidak bahagia?”

“Bahagia. Tapi—“

“Tapi apa?”

“Masih kurang.”

“Oh.”

“Kalau kamu?”

“Aku punya sepasang anak dan empat cucu.”

“Kamu bahagia?”

“Tentu.”

“Bagus sekali.”

“Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, tidak.”

“Tidak dicari istrimu?”

“Tidak. Ia sedang tidur tenang di surga.”

“Oh, maaf. Mau berjalan-jalan?”

“Bruno ikut, ya. Dia sedih kalau aku tinggal di rumah.” Jan menarik rantai Bruno, seekor anjing jenis Golden Retriever. Bruno beranjak dan berjalan pelan sekali, mengimbangi kecepatan langkah kaki majikannya.

Mereka berjalan terus menyusuri rerumputan dan sungai. Mereka melihat sebuah rumah kosong yang bobrok di seberang sungai. Bobrok, seperti tubuh mereka di usia senja. Rasanya, rumah itu tepat untuk tempat mengobrol. Mereka menyeberangi jembatan dengan sangat hati-hati.

Teras rumah bobrok memberikan kehidupan yang baru pada Jan dan Ratih. Mereka mengisi waktu dengan menyusunkan kembali keping-keping kisah mereka di masa lalu. Kini, mereka menertawakan kesialan nasib mereka yang terkekang tradisi dan batasan aturan di masa lalu. Andai saja mereka bisa memilih untuk lahir di zaman yang lebih moderen, tentu mereka tak akan mengalami pengotakkan antara orang pribumi dan keturunan Tionghoa.

Semenjak senja itu, setiap pagi sebelum fajar merekah, Ratih membantu menyiapkan keperluan sekolah cucu-cucunya, lalu berdandan.

“Eyang Ntih, kok belakangan ini eyang dandan terus sih? Suka senyum-senyum sendiri juga,” ujar Sari, cucunya yang ke sembilan, masih duduk di bangku SD. Ratih hanya tersenyum dan mengecup keningnya, lalu mengambil payung hijaunya dan melangkah ke luar rumah. Ia menuju rumah bobrok di seberang sungai.

Sementara, Jan sudah bersiap dengan kemeja dan kolonye-nya. Ia menuangkan makanan untuk Bruno, dan menepuk-nepuk kepalanya. Kemudian ia pergi menuju rumah bobrok di seberang sungai. Bruno sudah mengerti dan tidak keberataan ditinggal olehnya.

DisanaJan dan Ratih menyulam kembali kenangan yang tertunda. Mereka duduk di teras kayu yang reyot, saling berbagi cerita dan tawa. Mengingat-ingat masa-masa ketika mereka bermain bersama di lapangan bola, atau balapan sepeda sampai di perempatan sekolah. Mereka suka menikmati hujan, hingga Ratih tertidur di bahu Jan. Bahkan, tak jarang mereka berdansa bersama dengan musik dari alat pemutar musik tua yang dibawa Jan. Mereka selayak pasangan penari, yang berbahagia meliuk-liuk di atas panggung.

Menjelang matahari terbenam, mereka harus kembali ke dunia nyata, di mana keluarga dan cucu-cucu yang sah menunggu di rumah. Mereka harus berpisah, di depan rumah bobrok itu.

“Sampai ketemu besok, Ratih,” ucap Jan sendu.

“Sampai ketemu besok, Jan,” Ratih mencium tangan Jan yang keriput.

Setiap perpisahan mereka di ujung senja, seakan itu perjumpaan terakhir kalinya. Mereka selalu disergap kesedihan yang mendalam ketika hendak berpisah. Jan selalu memastikan punggung Ratih yang cembung seperti tempurung kura-kura itu sampai lenyap di persimpangan. Jan dan Ratih, menyimpan harapan yang selalu sama, supaya bisa bertemu di esok hari. Mereka tak tahu kapan ajal menjemput.

Begitulah yang mereka lakukan setiap hari di usia 65. Gairah mereka tak ubahnya seperti anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun di suatu subuh, Ratih merasa tubuhnya tak bisa bangun, matanya tak kuat membuka.

“Eyang Ntiiiiihh!” cucu-cucunya berkerumun, menggoyang-goyangkan badannya yang rintih. Anak-anaknya tak henti-hentinya mengucurkan air mata kehilangan. Ratih tidak merasa apa-apa, tapi ia bisa merasakan kepedihan di antara keluarganya. Satu yang sedang ia sesalkan, ia tak sempat menyampaikan pesan pada Jan untuk tidak udah menunggunya hari ini di rumah bobrok itu, karena tubuhnya letih sekali.

Benar saja, Jan sudah berdiri di menghadap ke rumah bobrok selama dua jam. Ia masih berharap perempuan yang dicintainya tiba-tiba muncul dari balik daun jendela, memberikannya secangkir teh pahit, seperti biasa. Tapi hari itu, hatinya sepi. Sunyi, seakan kenangan indah yang dimilikinya ditarik ke langit, kembali ia merasa dipecut tradisi, bahwa mereka tidak bisa bersama.

Angin semilir membawa pesan ke telinga Jan. Bukan hanya Jan yang merasa kehilangan. Tapi juga, angin, tapi juga retakan kaca, engsel pintu, serta rayap-rayap kayu di rumah reyot bersedih, merindukan siluet yang setiap harinya mengisi kekosongan disana. Air mata Jan jatuh tak tertahankan. Ia tersedu hingga tulang-tulang di bahunya yang kurus ikut bergetar. Ia meraung seperti seorang anak kecil, yang tak menemukan mainan kesayangannya yang hilang. Ia terus bertumpu pada kedua kakinya yang lemah, berpijak pada teras kayu yang reyot, dan tak ingin meninggalkan kenangan. ©

Iklan