Love is a Trade ?

Brot-Love is A Trade

Dari pagi dengerin Ibu-ibu  yang bantuin Mamah masak, si Ibu curhat sambil terisak, Suaminya main gila, si Bapak sudah punya Cucu tapi masih suka main perempuan. Si Bapak jarang pulang kerumah, alasannya tidak jelas, si Ibu cuma bisa menangis, untung anak-anaknya sudah besar semua, sampai di titik ini Aku mengerti, ini soal cinta yang sudah habis masa kadaluarsa nya, yang semakin pudar seiring kulit yang tidak lagi merona karena dimakan usia, dan karena si Bapak yang juga masih prima hingga tidak bisa melewatkan begitu saja kesempatan menikmati rasa baru yang menyenangkan juga terlarang. Tapi kemudian si Ibu menambahkan banyak hal tentang uang, tentang betapa takutnya ditinggalkan begitu saja tanpa nafkah yang cukup, takut kehidupannya tidak lagi sama sepeninggal Suaminya, di bagian ini ada sedikit kemirisan, apa setelah menikah karena cinta kemudian mempunyai Anak lalu menghabiskan belasan tahun bersama berbagi kasur yang sama, dibawah selimut yang sama, ketika terjadi pengkhianatan yang dipusingkan hanya masalah bagaimana pembagian nafkah..? bagaimana menjalani hidup yang tidak sama lagi..? tanpa baju baru yang rutin dibeli tiap awal bulan, tanpa perhiasan yg selalu dipamer-pamerkan tiap pergi arisan, kaget setelah mendengar semua alasan Ibu ini.

Ternyata setelah puluhan tahun bersama cinta bermetafora menjadi layaknya hubungan bisnis, seperti pedagang yang takut kehilangan pelanggan satu satunya saja, bagaimana kalau seperti ini saja, ketika terjadi pengkhianatan yang sudah tidak bisa ditolerir bersikaplah dengan anggun, tinggalkan saja tanpa perlu banyak suara, tanpa perlu banyak saling tuding. bahkan setelah lelaki itu pernah begitu menggilai setiap lekuk tubuhmu, hapal kebiasaan terburukmu, pertahankan harga dirimu!, tidak perlu merengek agar bisa tetap hidup seperti biasa, karena kehidupan yang datar dan biasa aja sungguh sangat membosankan, percayalah ada Alloh yang pasti memelihara kita, jangan menggantungkan diri kepadanya yang sudah ingin pergi.

(renungan buat diri sendiri, ditulis ditengah-tengah bolu gulung, es buah, donat jco dll, dari sudut pandang yang *belum menjadi korban suami* tapi semoga tidak akan. aamiin

Iklan