Keluh Kesah pasca (datang ke) pernikahan Teman dan hasrat lainnya…

Pret-Keluh Kesah Brot

Ini pembuka dari Saya (Pret)

Halo Brot, sudah lama Kita vakum dalam blog ini, sebenarnya setiap minggu Aku selalu buka sih, sekedar membaca ulang setiap tulisan yang sudah Kita buat, sambil mengingat-ngingat tentang kisah  dalam tulisan-tulisan absurd Kita, biasanya cukup membantu meringankan sedikit kejenuhan pikiran yang cuman berisikan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan, Kamu tahu Brot sepertinya Kita mulai berjarak deh, komunikasi formal dan non formal Kita sudah semakin berkurang banyak, entah mungkin karena masing-masing dari Kita sudah punya rutinitas yang seabrek-abrek atau karena Kita hanya memang manusia biasa yang kadang khilaf dan tak lepas dari salah dan dosa, ah entahlah. See Brot… kadang hidup bisa serumit apa yang Kamu paparkan dalam curhatan di email beberapa hari yang lalu, oh ya, biar ceritanya blog Kita agak up to date, curhatan Kamu diterbitkan saja lah, walaupun agak sedikit tidak layak dari sisi bahasa, Kamu sepertinya mengalami kemunduran cara berpikir, tapi tidak apalah toh Kamu menulisnya juga pasti dan selalu dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menulis, tapi, Saya doakan apapun yang Kamu kerjakan dan Kamu yakini hari ini, semoga bisa berhasil dan dan kalaupun gagal setidaknya bisa jadi bahan buat tulisan Saya kelak, huhuuhu, piss…

Ini tulisan Kamu (Brot)

Brot-Keluh Kesah

Apa ini bisa menggambarkan masa depan Kamu Brot?

Masih ingat resepsi satu minggu yang lalu, tahukah kamu..? 15menit sebelumnya saya mengalami adrenalin rush, karena tanpa persiapan dan informasi. lelaki yang semenjak dulu saya gilai dari jauh tanpa suara berisik dan hanya tuhan kemudian kamu yang tahu datang dengan tiba-tiba secara resmi membawa keluarganya, dengan hanya memakai polo shirt edisi summer strips keluaran merek produsen sepatu sports ternama. Mencuri waktu disela kewajiban bekerjanya.. Ada perasaan ajaib juga miris, ajaib karena akhirnya resmi dipinang setelah sebelumnya  hanya datang sendiri menghadap Ibu.. Miris karena ternyata saya masih sangat butuh seorang lelaki yang dituakan yang bisa berbicara mewakili Saya & Ibu. Pengalaman  1,5 jam saat itu rasanya seperti Saya seorang Presiden yang Negaranya baru merdeka, lalu harus berbicara disebuah konfrensi memperkenalkan diri berharap negara-negara yang hadir berkenan dan berbesar hati menerima negara kecil saya untuk bergabung, beraliansi dan semacamnya. Bermurah hati untuk mengerti dengan apa yang Saya bicarakan, karena belum punya banyak pengalaman dan pengetahuan tentang diplomasi, tentang mengenai apa saja yang biasanya dibicarakan bila dua keluarga saling bertemu. Mungkin seperti membanggakan sesuatu yang keluarga saya punya atau bakat yang saya miliki. Alih2 bisa berbicara banyak, Saya dan Ibu kebanyakan hanya jadi pendengar dan narasumber yang baik ketika ditanya mengenai sesuatu. Itu tadi cuma salah satu hal yang Saya ingin agar Kamu tahu tentang apa yang sedang terjadi pada Saya belakangan ini dan Saya rasakan sekarang.., berikutnya keraguan untuk menikah.., sial, Saya pikir menyukai, menggilai kemudian mencintainya selama 7 tahun tidak akan membuat Saya berpikir untuk menunda nunda pernikahan.., tapi ternyata tidak.., hasrat menghasilkan sesuatu  yang biasa kita jalani tiap saatnya yang kemudian diberi nama dengan sebutan “pekerjaan” sanggup membuat Saya memikirkan menunda pernikahan selama selang waktu  satu bulan, Saya benar-benar bersemangat mengerjakan dan memperjuangkan pekerjaan yang Saya sukai, Saya bahkan sangat menikmati perjuangan mengumpulkan receh demi receh untuk satu rol pita label satin yang  orang lain dengan penghasilan dan perekonomian stabil  akan sangat mudah membelinya karena cuma seharga 1 pizza large sesudah pajak, menahan nyeri ditangan karena harus bergulat dengan gunting berkarat tumpul, harap harap cemas karena juga bekerja dengan sebuah mesin jahit yang umurnya lebih tua dari usia sendiri,
beberapa kali kadang dihampiri perasaan menyesal karena dulu pernah menghabiskan uang dengan sia-sia. Padahal dengan uang  yang seharga 4 bungkus rokokmu saja Saya bisa menghasilkan sesuatu yang harganya akan setara dengan 15 bungkus rokokmu.., jadi, bisakah Kamu memikirkan dengan baik ketika Kamu ingin menghabiskan uangmu untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, karena 200 km lebih dari tempat kamu duduk membaca tulisan ini sambil melakukan sesuatu atau cuma sekedar menikmati kopi mahal mu ada seorang perempuan yang tiap malam ketika terbangun dari tidur lebih memilih berselancar di web jual beli barang bekas menunggu seseorang menjual sebuah patung manekin dengan harga murah ketimbang sholat malam meminta diberi rejeki/amanah berupa titipan manekin, gunting kain yg tajam, beberapa kain yang harus dibeli, mesin jahit baru, lucu ketika bisa menghabiskan waktu untuk menulis berbagi dengan Kamu, tapi denganNYA saya malah…….. (malah apa Brot??? apakah ini tamat?? ahhh Brot yang malang).

Love is a Trade ?

Brot-Love is A Trade

Dari pagi dengerin Ibu-ibu  yang bantuin Mamah masak, si Ibu curhat sambil terisak, Suaminya main gila, si Bapak sudah punya Cucu tapi masih suka main perempuan. Si Bapak jarang pulang kerumah, alasannya tidak jelas, si Ibu cuma bisa menangis, untung anak-anaknya sudah besar semua, sampai di titik ini Aku mengerti, ini soal cinta yang sudah habis masa kadaluarsa nya, yang semakin pudar seiring kulit yang tidak lagi merona karena dimakan usia, dan karena si Bapak yang juga masih prima hingga tidak bisa melewatkan begitu saja kesempatan menikmati rasa baru yang menyenangkan juga terlarang. Tapi kemudian si Ibu menambahkan banyak hal tentang uang, tentang betapa takutnya ditinggalkan begitu saja tanpa nafkah yang cukup, takut kehidupannya tidak lagi sama sepeninggal Suaminya, di bagian ini ada sedikit kemirisan, apa setelah menikah karena cinta kemudian mempunyai Anak lalu menghabiskan belasan tahun bersama berbagi kasur yang sama, dibawah selimut yang sama, ketika terjadi pengkhianatan yang dipusingkan hanya masalah bagaimana pembagian nafkah..? bagaimana menjalani hidup yang tidak sama lagi..? tanpa baju baru yang rutin dibeli tiap awal bulan, tanpa perhiasan yg selalu dipamer-pamerkan tiap pergi arisan, kaget setelah mendengar semua alasan Ibu ini.

Ternyata setelah puluhan tahun bersama cinta bermetafora menjadi layaknya hubungan bisnis, seperti pedagang yang takut kehilangan pelanggan satu satunya saja, bagaimana kalau seperti ini saja, ketika terjadi pengkhianatan yang sudah tidak bisa ditolerir bersikaplah dengan anggun, tinggalkan saja tanpa perlu banyak suara, tanpa perlu banyak saling tuding. bahkan setelah lelaki itu pernah begitu menggilai setiap lekuk tubuhmu, hapal kebiasaan terburukmu, pertahankan harga dirimu!, tidak perlu merengek agar bisa tetap hidup seperti biasa, karena kehidupan yang datar dan biasa aja sungguh sangat membosankan, percayalah ada Alloh yang pasti memelihara kita, jangan menggantungkan diri kepadanya yang sudah ingin pergi.

(renungan buat diri sendiri, ditulis ditengah-tengah bolu gulung, es buah, donat jco dll, dari sudut pandang yang *belum menjadi korban suami* tapi semoga tidak akan. aamiin

Siluet Dirumah Reyot (Penulis: Faye Yolody)

Pret-Siluet Dirumah Reyot

Di dalam sebuah rumah reyot di seberang sungai, sepasang insan sedang mencinta. Tampak siluet tubuh kurus memeluk pinggang seorang perempuan bungkuk sedang berputar dengan tertatih-tatih. Kedua bayangan mereka menyatu, dan apabila dinding itu bisa merekam suara, akan terdengar sayu-sayu obrolan dengan irama yang lembut dan menenangkan. Buyar tawa sesekali terdengar menyelingi percakapan seru itu, kemudian terkadang kesunyian mencuri waktu dalam dekapan orang dalam siluet itu.

Retakan kaca, engsel pintu yang rusak, beserta rayap-rayap yang bersarang di pondasi kayu rumah tak sengaja mencuri dengan obrolan mereka, tanpa meminta izin pada dinding. Mereka menyaksikan langsung kedua insan itu tanpa harus menerka-nerka siluet. Si retakan mendadak terdiam, engsel pintu berhenti berdecit, dan rayap menunda pekerjaannya. Hanya angin di luar yang terus berhembus, mengamati si pemilik siluet, dan mengetahui kisah pahit manis di balik obrolan dan pelukan.

“Entah sampai kapan aku bisa merasakan hangat tanganmu lagi, Jan,” ujar perempuan itu lirih.

“Maka jangan lepas dari genggamanku lagi, Ratih,” ujar lelaki itu seraya mengecup dahi si perempuan yang terhalang rambut putih. Sesekali mereka menari berputar, dan ketika merasa lelah mereka saling membantu untuk duduk menepi di kursi.

Berpuluh tahun lalu, Jan dan Ratih adalah teman sepermainan di antara empat lainnya. Setiap sore sepulang sekolah, mereka suka bermain petak umpet. Suatu momen saat Ratih menghadap pohon dan menghitung sementara teman-temannya bersembunyi, ia mendapati dua orang tentara di balik badannya. Tentara itu sedang melakukan razia, terutama pada warga keturunan. Saat itu Jan yang sedang bersembunyi di balik gerobak sampah ingin menghampiri, tapi urung. Bisa-bisa ia ditangkap dan dihabisi nyawanya karena warna kulitnya yang kuning dan matanya yang sipit.Paratentara mengamati gadis kecil itu dari kepala sampai kaki. Setelah mengamati Ratih, kemudian melihat sekeliling dengan cermat, seperti sedang mencari sesuatu. Untungnya, kedua tentara tersebut nampaknya tidak berniat jahat. Setelah beberapa saat, kedua tentara itu kembali berjalan dan menghilang di belokan gang. Jan segera menghambur keluar.

“Maaf aku tak membantumu tadi..”

“Tak apa. Aku tahu bukan kamu tak mau, tapi tak bisa,kan? Aku mengerti posisimu, Jan. Lagipula aku tidak kenapa-napa.”

Jan tersenyum, lalu Ratih kembali menghadap pohon sementara Jan mencari tempat persembuyian lagi.

Dua tahun ini mereka membohongi perasaan masing-masing dan menyelimutinya dengan persahabatan. Jan dan Ratih tahu, filosofi keluarga Jan dengan darah keturunan Tionghoa sangat bertolak belakang dengan ketulenan suku Jawa yang dimiliki Ratih. Semakin mereka memaksakan hubungan, semakin menjerumuskan mereka ke semak belukar yang rumit. Seperti dunia yang tak berawal dan tak ada akhir, mereka memutuskan hubungan begitu saja. Tanpa ucapan, tanpa perpisahan.

Jan dan Ratih menikah dengan pasangan masing-masing hingga beranak-cucu. Istri Jan meninggal di usia 65 tahun karena penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya selama tiga tahun. “Terima kasih, kamu telah menemaniku selama 40 tahun ini, Jan. Kejarlah bahagiamu yang sesungguhnya.” Jan memandangi terus-menerus pada kalimat terakhirsuratwasiat yang ditinggalkan istri. Jan termangu, menyadari istrinya sadar akan sesuatu yang hilang dari diri Jan selama usia pernikahan mereka.

Di belahan lain, setahun kemudian, Ratih bersama dua anak dan empat cucunya berduka atas sepeninggal suaminya yang berasal di dusun seberang. Ratih mengusap air mata nelangsa yang bercucuran terus-menerus di samping jasad suaminya. Ia tidak sanggup menghadapi perpisahan untuk kedua kalinya.

Semenjak itu, Ratih senang berjalan-jalan di taman sendirian, menikmati senja yang hangat. Di sebuah bangku taman, Ratih melihat seorang lelaki sedang mengobrol dengan anjingnya. Sebuah tongkat bersandar pada lutut si lelaki. Ratih duduk di sampingnya, berusaha meluruskan punggungnya yang bungkuk pada sandaran bangku. Ratih memperhatikan sinar mata lelaki yang teduh, mengingatkannya pada seseorang.

Merasa diperhatikan, lelaki itu menoleh ke arah Ratih. Jan terkesiap lalu tersenyum tipis setelah beberapa detik. Buat Jan, raut wajah Ratih masih persis seperti dulu, hanya saja kerutan menghiasi seluruh wajahnya.

“45 Tahun bukan waktu yang singkat, ya,” Jan membuka pembicaraan.

“Apa kabar?”

“Ya, seperti yang kamu lihat. Tua, keriput, dan mencari kebahagiaan.”

“Memang kamu tidak bahagia?”

“Bahagia. Tapi—“

“Tapi apa?”

“Masih kurang.”

“Oh.”

“Kalau kamu?”

“Aku punya sepasang anak dan empat cucu.”

“Kamu bahagia?”

“Tentu.”

“Bagus sekali.”

“Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, tidak.”

“Tidak dicari istrimu?”

“Tidak. Ia sedang tidur tenang di surga.”

“Oh, maaf. Mau berjalan-jalan?”

“Bruno ikut, ya. Dia sedih kalau aku tinggal di rumah.” Jan menarik rantai Bruno, seekor anjing jenis Golden Retriever. Bruno beranjak dan berjalan pelan sekali, mengimbangi kecepatan langkah kaki majikannya.

Mereka berjalan terus menyusuri rerumputan dan sungai. Mereka melihat sebuah rumah kosong yang bobrok di seberang sungai. Bobrok, seperti tubuh mereka di usia senja. Rasanya, rumah itu tepat untuk tempat mengobrol. Mereka menyeberangi jembatan dengan sangat hati-hati.

Teras rumah bobrok memberikan kehidupan yang baru pada Jan dan Ratih. Mereka mengisi waktu dengan menyusunkan kembali keping-keping kisah mereka di masa lalu. Kini, mereka menertawakan kesialan nasib mereka yang terkekang tradisi dan batasan aturan di masa lalu. Andai saja mereka bisa memilih untuk lahir di zaman yang lebih moderen, tentu mereka tak akan mengalami pengotakkan antara orang pribumi dan keturunan Tionghoa.

Semenjak senja itu, setiap pagi sebelum fajar merekah, Ratih membantu menyiapkan keperluan sekolah cucu-cucunya, lalu berdandan.

“Eyang Ntih, kok belakangan ini eyang dandan terus sih? Suka senyum-senyum sendiri juga,” ujar Sari, cucunya yang ke sembilan, masih duduk di bangku SD. Ratih hanya tersenyum dan mengecup keningnya, lalu mengambil payung hijaunya dan melangkah ke luar rumah. Ia menuju rumah bobrok di seberang sungai.

Sementara, Jan sudah bersiap dengan kemeja dan kolonye-nya. Ia menuangkan makanan untuk Bruno, dan menepuk-nepuk kepalanya. Kemudian ia pergi menuju rumah bobrok di seberang sungai. Bruno sudah mengerti dan tidak keberataan ditinggal olehnya.

DisanaJan dan Ratih menyulam kembali kenangan yang tertunda. Mereka duduk di teras kayu yang reyot, saling berbagi cerita dan tawa. Mengingat-ingat masa-masa ketika mereka bermain bersama di lapangan bola, atau balapan sepeda sampai di perempatan sekolah. Mereka suka menikmati hujan, hingga Ratih tertidur di bahu Jan. Bahkan, tak jarang mereka berdansa bersama dengan musik dari alat pemutar musik tua yang dibawa Jan. Mereka selayak pasangan penari, yang berbahagia meliuk-liuk di atas panggung.

Menjelang matahari terbenam, mereka harus kembali ke dunia nyata, di mana keluarga dan cucu-cucu yang sah menunggu di rumah. Mereka harus berpisah, di depan rumah bobrok itu.

“Sampai ketemu besok, Ratih,” ucap Jan sendu.

“Sampai ketemu besok, Jan,” Ratih mencium tangan Jan yang keriput.

Setiap perpisahan mereka di ujung senja, seakan itu perjumpaan terakhir kalinya. Mereka selalu disergap kesedihan yang mendalam ketika hendak berpisah. Jan selalu memastikan punggung Ratih yang cembung seperti tempurung kura-kura itu sampai lenyap di persimpangan. Jan dan Ratih, menyimpan harapan yang selalu sama, supaya bisa bertemu di esok hari. Mereka tak tahu kapan ajal menjemput.

Begitulah yang mereka lakukan setiap hari di usia 65. Gairah mereka tak ubahnya seperti anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun di suatu subuh, Ratih merasa tubuhnya tak bisa bangun, matanya tak kuat membuka.

“Eyang Ntiiiiihh!” cucu-cucunya berkerumun, menggoyang-goyangkan badannya yang rintih. Anak-anaknya tak henti-hentinya mengucurkan air mata kehilangan. Ratih tidak merasa apa-apa, tapi ia bisa merasakan kepedihan di antara keluarganya. Satu yang sedang ia sesalkan, ia tak sempat menyampaikan pesan pada Jan untuk tidak udah menunggunya hari ini di rumah bobrok itu, karena tubuhnya letih sekali.

Benar saja, Jan sudah berdiri di menghadap ke rumah bobrok selama dua jam. Ia masih berharap perempuan yang dicintainya tiba-tiba muncul dari balik daun jendela, memberikannya secangkir teh pahit, seperti biasa. Tapi hari itu, hatinya sepi. Sunyi, seakan kenangan indah yang dimilikinya ditarik ke langit, kembali ia merasa dipecut tradisi, bahwa mereka tidak bisa bersama.

Angin semilir membawa pesan ke telinga Jan. Bukan hanya Jan yang merasa kehilangan. Tapi juga, angin, tapi juga retakan kaca, engsel pintu, serta rayap-rayap kayu di rumah reyot bersedih, merindukan siluet yang setiap harinya mengisi kekosongan disana. Air mata Jan jatuh tak tertahankan. Ia tersedu hingga tulang-tulang di bahunya yang kurus ikut bergetar. Ia meraung seperti seorang anak kecil, yang tak menemukan mainan kesayangannya yang hilang. Ia terus bertumpu pada kedua kakinya yang lemah, berpijak pada teras kayu yang reyot, dan tak ingin meninggalkan kenangan. ©