Anxiety adalah tentang Melepaskan dengan Keikhlasan

Anxiety gone, Up in the air

Nona, ada sebuah lagu judulnya “Taman Bunga” tolong dengarkan lagu itu seandainya Kamu ada kesempatan mungkin sambil mengingat saat dulu, salah satu liriknya “sungguh kelabu, kulukis indah rupamu, oh.. sungguh layu, harapanku kepadamu. Oh mengapa bunga ditaman hatiku hanya satu, oh menghilang bunga kesayanganku diambil orang, mekarlah selamanya ditaman yang lain, sungguh kelabu, kini tanganku tanpamu, jangan kau layu, semesta kan menjagamu, bersenanglah bunga kesayanganku tumbuh bahagia”, sepertinya ini keseluruhan lirik lagu Mas Aku Jeje (nama penyanyinya), by the way 10 bulan terakhir adalah waktu yang sangat berat Nona, aku kehilangan satu-satunya pondasi hidupku, Mamaku pergi tepat dihadapanku dikamar ICU, dan 5 hari menjelang umurku yang ke 37 (what the moment), gilanya aku di vonis menderita Gerd Anxiety yang sungguh kelabu sekali apabila diingat, berobat medis sampai non medis lintas agama, aku pikir anxiety ini hanyalah penyakit anak-anak Gen-Z  karena aku sangat paham konsep dan gejalanya, sampai akhirnya menusukku dari belakang dan woww rasanya sangat tidak menyenangkan dan menghancurkan banyak hal, fuhh berat dan gila, sampai akhirnya aku ditampar untuk disadarkan bahwa segalanya hanyalah tentang menerima kenyataan dan melepaskan dengan ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, yang tidak masuk akalnya its work for me, now i’m ready to fight the world, but slowly heee.

Saat menulis ini aku tepat berada diketinggian 16.800 kaki diatas kepulauan Kalimantan, sambil mendengarkan lagu di youtube music yang aku unduh sebelum terbang, tentu saja aku mengulang lagunya berkali-kali, Kamu tahu Nona yang hebatnya adalah ini trip solo bisnisku pertama kali setelah begitu lamanya aku tidak berani kemana-mana dan terbang sendirian (ya betul, karena anxiety), yaaays ini patut dirayakan dengan menambahkannya pada diari web yang sudah tidak dikenal  dan ketinggalan zaman ini, tapi bagiku inilah tempat nostalgia terbaik untuk mengingat banyak momentum 11 tahun yang lalu. Nona sudah dulu ya, pesawat ku sudah hampir landing dan aku bersiap untuk penerbangan berikutnya, Aku harap kamu selalu menemukan banyak hal yang membuat bahagia, aku harap semuanya berjalan baik, jangan lupa dengarkan lagunya. Bye.

LAYUNG

Sumber: internet

Sudah sepuluh menit layung berdiri di samping jendela kamarnya, pandangannya tidak menentu, bola matanya bergerak lambat mengamati rimbunan pohon di seberang jalan. Diam-diam layung kagum pada pohon-pohon itu yang bertambah tinggi melewati batas pandang tepi jendelanya.

Layung menutup dan menarik jendelanya dengan keras. Jendelanya memang harus ditarik dengan keras agar bisa menutup rapat. Dua bulan yang lalu, Layung harus berhati-hati untuk menarik jendelanya sehingga tertutup dengan rapat. Layung tidak ingin menimbulkan bunyi yang keras karena mungkin tetangga sebelah rumahnya akan merasa terganggu.

Penghuni sebelah rumahnya terdiri dari sepasang suami istri dan tiga anak kecil. Anak tertuanya merupakan seorang gadis berusia dua belas tahun, sedangkan anak kedua adalah seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Yang paling kecil masih berusia satu tahun. Mereka telah tinggal di rumah kecil disamping rumah besar yang ditempati oleh Layung selama dua tahun.

Selama mereka tinggal disana, Layung tidak pernah berinteraksi atau sekedar berbincang-bincang tentang cuaca atau hal-hal lainnya seperti yang biasanya dilakukan oleh para wanita. Layung bahkan tidak pernah tersenyum saat mereka bertemu atau saling pandang. Layung hanya diam. Layung yang terlihat kaku dan sombong, begitulah yang dipandang oleh tetangganya.

Sebetulnya, ada banyak momen saat Layung memasak dalam jumlah yang banyak dengan sengaja, tujuannya adalah agar bisa membagikan makanan tersebut ke rumah tetangganya atau membelikan beberapa kue dan minuman manis untuk anak-anak di sebelah rumah. Layung selalu berharap agar mereka yang tinggal di sebelah rumahnya tidak menganggap Layung sebagai orang yang angkuh dan sombong.

Walau sampai hari ini, saat kisah ini ditulis, Layung masih tidak tahu nama-nama anak mereka. Di lubuk hati yang terdalam, Layung merasa telah berlaku terlalu jauh dan menjadi seorang tetangga yang abai. Layung selalu acuh dan tidak pernah ingin membuka diri. Bagi Layung, berbicara dan bersikap ramah hanya terjadi saat momen lebaran tiba, saat Layung harus berpamitan karena pulang ke kampung halaman.

Saat ini, rumah kecil di sebelah sudah kosong. Hanya ada lampu ruang tengah yang masih menyala tanpa gorden pada jendelanya. Layung mengingat setiap akhir bulan dalam tiga puluh hari, suami tetangganya akan pulang selama dua atau tiga hari untuk menjenguk anak dan istrinya. Suaminya bekerja di tempat yang jauh, dan hanya bisa pulang saat akhir bulan.

Tiga bulan sebelum rumah itu kosong, suaminya jatuh sakit dan berhenti bekerja. Layung sering mendengar anak terkecil mereka menangis dengan keras, atau bunyi perkakas yang nyaring, mungkin karena terjatuh atau sengaja dibanting. Layung tidak ingin mencari tahu.

Saat suami tetangganya jatuh sakit dan terbaring di rumahnya saja, Layung yang kaku hanya bisa menitipkan beberapa kebutuhan harian untuk tetangganya lalu berdiam diri di rumahnya seperti biasa. Sampai pada akhirnya terdengar jeritan tangis pilu anak-anaknya karena mendengar ayahnya sudah wafat dalam tidurnya.

         ~Bersambung~

Ps: Kisah ini tentang seorang anak laki-laki yang mengayuh sepedanya dengan tekun demi mendapatkan majalah anak-anak kesukaannya. Majalah itu selalu datang terlambat selama 1 hari dari tanggal terbitnya karena ia tinggal jauh dari pusat ibu kota.

Ayah mengapa Aku berbeda?

Sumber Internet

Belakangan aku mulai bertanya tanya, apa rasanya menjadi sepertimu apakah langkah mu selalu ringan, hingga tidak sadar kalau salah satu alas sepatumu lumayan membuka (aku tertawa saat melihatnya)..apakah punggungmu tidak terasa nyeri seperti punggungku beberapa tahun ini (aku divonis syaraf terjepit grade 1, -Pret). Bagaimana rasanya memiliki peran penting untuk banyak orang, bagaimana rasanya bisa berada ditempat tinggi dan berpergian ketempat yang jauh.., apa saja warna baru yang kamu lihat diperbedaan waktu yang berbeda beda itu, dan terlihat seperti apa..? apakah disana warna merah masih terlihat memikat ataukah terlihat membosankan dan memiliki nama panggilan lain. Aku rasa

kau sudah menaklukkan dunia. Setidaknya buatku begitu, kau ingat aku selalu cepat berpuas diri begitu katamu dulu. Padahal aku hanya mudah bersyukur itu saja. 

Hei terimakasih untuk pertolonganmu, berkatmu aku bisa menutup dapurku dijam 8 malam, dan Memiliki sedikit waktu luang untuk mereka, kau tahu anak sulungku menyukai matematika baginya angka angka seperti memiliki keajaiban yang tidak terbatas. Karenanya aku mulai mengajarkannya aljabar pelajaran yang seharusnya masih 7 atau 8 thn lagi dia dapatkan, aku melakukannya karena aku masih ingin mengobati masa kecilku yang selalu kalah dengan matematika aku benar benar tidak ingin dia menjadi sepertiku, aku harap dengan begitu dia lebih rasional saat dewasa nanti. Jangan sampai seperti ibunya, oh tuhan aku begitu membenci diriku sendiri dalam banyak hal yang aku miliki Dan yang telah kulakukan digaris hidupku. sekarang aku mulai mengerjakan sesuatu menulis beberapa cerpen pendek untuk dibacakan ulang oleh si sulung dan merekam suaranya, aku bilang padanya ini proyek ibu dan anak. Dia bertanya kenapa kami harus melakukan ini dan itu, 

aku katakan padanya, agar kami bisa memiliki banyak kenangan bersama, agar aku dan dia bisa mengingat banyak hal yang dilakukan bersama sama, agar kami nantinya tidak kerap berdebat tentang sesuatu yang tidak penting, maksudku bila kami banyak melakukan sesuatu bersama sama kami tidak akan saling melukai nantinya, karena kami akan mengingat perasaan kami saat itu perasaan seorang ibu kepada anaknya dan sebaliknya. Lagi pula mungkin saja ini tidak berhenti untuk kami saja, siapa yang tahu mungkin bisa dinikmati oleh orang orang diluar sana well siapa yang tahu. 

 aku ingin dia menekuni sesuatu dan menguasainya, aku memulainya dengan membuatkan cerita pendek untuknya cerita cerita ajaib dengan tokoh tokoh yang sedikit tidak masuk akal. Ada kelinci yang harus masuk hutan padahal hujan badai sangat deras karena sangat ingin pergi belajar mengaji, sudah tiga kali aku menceritakan ulang cerita itu dan tidak pernah gagal membuatnya bersemangat seperti kelinci diakhir cerita. 

Dan dua hal diatas tidak akan terjadi bila tempo hari Tuhan dan kau tidak menolongku, alih alih nasihat pergi atau bertahan, atau harus bagaimana bila terjadi hal hal memalukan. 

yang kudapat lebih melampaui dugaanku, hari hari selanjutnya rasanya seperti berutang budi kebanyak orang tidak hanya ke satu orang tapi ke anak dan cucumu nanti. Atau seseorang dimasa depan yang mungkin membutuhkan bantuan yang sama, Jadi begitulah hidupku ternyata, suatu hari nanti mungkin saat mereka sudah dewasa aku akan berbagi rahasia memalukan ini atau tidak entahlah.

Kau masih menyukai mie goreng instan..? Aku pernah menikmatinya tanpa bumbu ajaibnya saat itu aku benar benar lapar aku tidak menyadari kalau mie gorengku tidak berbumbu, aku bahkan menambahkan nasi dan memakannya dengan cepat. aku baru tahu tidak menaburkan bumbu bumbu itu saat sudah selesai makan ketika mengangkat piring makanku yang menindih bungkusan bumbu itu. aku bertaruh kau tidak pernah memakan mie goreng se menyedihkan itu.